Tampilkan postingan dengan label Laporan Khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Khusus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2009

Al-Quds dan Al-Aqsha; Di tengah Proyek Penjajahan Zionis Amerika

2 komentar

Risalah Mursyid
26/10/2009 | 7 Dhul-Qadah 1430 H | 146 views
Oleh: DR. Muhammad Mahdi Akif

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 16-10-2009

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya…

Barangsiapa yang melindungi musuhnya maka pada suatu hari ia akan hancur

Sesungguhnya umat yang sadar dan waspada tidak akan bingung dengan segala urusan utamanya, tidak akan mungkin tertipu dengan permasalahannya yang begitu besar, tidak akan mungkin mengabaikan terhadap bahaya yang mengancamnya; karena itu dia akan selalu mengenakan pakaiannya setiap saat, menyiapkan senjata pada setiap pertempuran. Dan pada saat musuhnya melakukan perampasan terhadap negeri, menistakan tempat-tempat sucinya, berusaha mengubah identitasnya, mengusir warganya, dan melakukan ribuan kejahatan yang melanggar kemanusiaan; mereka menyadari tidak ada manfaatnya untuk melakukan negosiasi dan usaha saling memahami, bahkan tidak ada artinya melakukan perdamaian bersamanya. Sungguh benar ungkapan orang Arab dahulu terhadap orang yang merasa dirinya angkuh:

Tidak ada diantara diriku dengan Qais cela # Selain suka menikam tubuh dan memukul budak

Dan itulah yang harus difahamai dan diketahui oleh umat Islam dan para pemimpinnya; menyadari dengan penuh bahwa dirinya telah bersekongkol dengan musuh, melakukan pelanggaran terhadap syariat, konsensus kemanusiaan dan undang-undang internasional, mengeluarkan sikap kontroversial terhadap berbagai kesepakatan internasional, sementara musuh-musuhnya menganggapnya hanya sekedar tinta diatas kertas (hitam diatas putih), sehingga mereka tetap membiarkan –bahkan membolehkdan dan memerintahkan- pasukannya untuk membunuh wanita, anak-anak dan orang tua, melakukan tindak kejahatan perang dihadapan mata dan telinga dunia.

Melalui media televisi dan radio tersebar tindak kejahatan zionis, dan menjadikan seluruh dunia sebagai saksi nyata dan jelas akan tindak kejahatannya; mayoritas bangsa yang memiliki hati yang hidup, bergetar keras perasaan kemanusiaannya pada kebanyakan tokoh di dunia ini mengecam tindakan tersebut, menggugah jiwa kemanusiaan mereka lalu menyeru untuk melawan tindak kejahatan ini, melakukan pembalasan terhadap tindak kejahatan yang telah merobek dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara itu, ada sekelompok orang melakukan jihad yang agung, usaha yang gigih dan tindakan yang menakjubkan; mereka mampu mengumpulkan beberapa bukti untuk melawan tindak kejahatan yang dilakukan zionis yang keji, berusaha mengajukan para penjahat perang ke Pengadilan internasional; minimal hasilnya adalah mengecam aksi kejahatan zionis, menyebarkan dan memberikan imej negatif dihadapan opini umum dan internasional akan kajahatannya, menyingkap fakta dan realitasnya dihadapan seluruh dunia, menghapus kecurangan, manipulasi dan pemalsuan yang dengannya dapat menipu banyak orang di seluruh dunia.

Sekiranya tidak ada satu kelompok yang memberikan jaminan kepada umat akan permasalahan ini maka akan tampak usaha seperti memberikan hadiah satu loyang emas kepadanya, dengan meminta untuk ditunda atau ditarik kembali keputusan internasional dari perdebatan, tidak ditampilkan dihadapan dewan keamanan; dengan harapan dapat mewujudkan kedamaian dan menyerahkan zionis ke pengadilan internasional.

Inilah harapan yang sulit diwujudkan, maka dari itu, seperti ungkapan seorang penyair Arab:

Lalu melalui lisan saya katakan secara menyeluruh

Barangsiapa yang melindungi musuhnya maka pada suatu hari akan hancur

Dimanakah posisi umat terhadap bumi Al-Aqsha dan problematikanya yang besar?!

Para penjahat zionis telah menguasai sikap Arab Palestina, mereka begitu cepat melakukan langkah untuk mencapai tujuan yang hina ini; untuk mengakhiri (menghancurkan) eksistensi Palestina Arab Islam di Al-Quds yang suci, mengakhiri (menghancurkan) permasalahan masjid Al-Aqsha, sekiranya tidak satu kelompok anak bangsa –laki-laki dan wanita- yang beriman dan teguh keimanannya, tegar dan teguh dalam memelihara dan melindungi masjid Al-Aqsha, menyerahkan dada dan tubuh mereka dihantam oleh senjata penjahat zionis, mereka berusaha menggagalkan berbagai usaha mereka untuk memasuki masjid Al-Aqsha dan mengusir warga darinya; sehingga memaksa zionis untuk menarik mundur sementara, menunda konspirasi mereka hingga waktu yang belum ditentukan. Namun sangatlah asing dan menakjubkan apa yang diberitakan; bahwa ada kelompok yang meminta penarikan keputusan kejahatan perang kemanusiaan dengan tidak memandang dengan apa yang terjadi dan dialami oleh Al-Aqsha sebagai permasalahan yang mengarah pada seruan diadakannya KTT Arab, bukan sebagai alasan untuk mengadu dalam berbagai acara dan pertemuan arab, domestik atau internasional, seakan usaha penghancuran masjid Al-Aqsha yang diberkahi, membuat puluhan terowongan dibawahnya, mengusir pemilik asli negeri yang disucikan dan menghancurkan rumah-rumah mereka; sebagai perkara yang tidak berhak untuk dijadikan beban sebagai tuntutan untuk mengadakan KTT Arab atau Islam; sebagai sarana untuk meninjau apa yang mungkin dapat dilakukan dalam rangka menghadapi bahaya laten yang mengancam tempat-tempat suci umat Islam.

Proyek zionis Amerika mengarah pada seluruh umat dan dunia

Tidak sedikit sikap resmi Arab dan Islam yang mengherankan terhadap sikap pemerintah Palestina; mereka berusaha menjadikan permasalahan Al-Aqsha, Al-Quds dan Palestina sebagai permasalahan domistik belaka, tidak ada ada sangkut pautnya dengan negara lain, atau adanya turut campur –atau terlibat- di dalamnya negara dan bangsa lain.

Ini merupakan suatu kerancuan besar yang selalu kami ingatkan dan khawatirkan, karena permasalahan ini bukan permasalahan internal Palestina belaka merupakan permasalahan bangsa Arab dan umat Islam secara keseluruhan, tanggungjawab pemerintah dan bangsa lainnya.

Jika bangsa Palestina bagi mereka menjadi tembok penghalang dalam terwujudnya proyek zionis Amerika yang aphartheid dan imperialis ini; maka bahaya tersebut tidak sekedar mengarah pada bangsa Palestina belaka, namun mengarah kepada umat secara keseluruhan; kemarin, saat ini dan masa yang akan datang, mengarah pada agama dan aqidahnya, nilai-nilia, akhlak dan peradabannya, mengarah pada kehormatan, stabilitas dan keamanannya, mengarah pada pemerintah dan bangsanya.

Karena tidaklah entitas zionis sang penjahat melakukan itu kecuali perang yang ditargetkan kepada seluruh umat, dan jika Al-Quds dan Al-Aqsha jatuh maka akan jatuh pula benteng kekuatan Palestina –semoga itu tidak terjadi- dan pada akhirnya akan jatuh pula yang lainnya –semoga ini pula tidak terjadi- seperti beberapa ibukota Arab dan umat Islam; karena proyek penjajahan Barat tidak bertujuan pada Palestina saja namun bertujuan pada target umat Islam seluruhnya.

Karena itu, seluruh umat harus berada dibelakang jihad Palestina sebagai pendukung dan penyangga, guna mempertahankan jiwa dan eksistensinya, sebelum api penjajahan mencapai pada berbagai ibu kota, kota-kota dan desa-desanya, karena mimpi “Israel raya” masih terus berjalan dan berusaha mewujudkan khayalan mereka sebagai kenyataan, dan akan terus diperbaharui ketika tampak terjadi kebingungan, kehinaan dan kelemahan di tubuh umat.

Karena itu apakah para cendekiawan dan tokoh hanya berdiam diri dan tidak berusaha untuk mematikan apinya, tidak mau bergerak sehingga api perang tersebut masuk ke rumah-rumah mereka, dan mereka tidak mampu mematikannya kemudian menyesal pada saat penyesalan sudah tidak ada manfaatnya sama sekali.

Dalam sejarah dikisahkan bahwa ada salah seorang mukhlisin saat melihat adanya pembangkangan terhadap pemerintahan Umawiyah; beliau bersegera menulis surat yang ditujukan kepada Marwan bin Muhammad, sebagai khalifah terakhir khilafah Umawiyah, beliau berkata:

Saya melihat di balik debu pasir ada percikan api # seakan memiliki letupan yang besar

Bahwa api yang terdapat pada musuh akan selalu diingat # dan perang biasanya di mulai dari ucapan

Sekiranya para cendekiawan pada suatu kaum tidak berusaha meredamnya # maka percikan apinya akan menjadi mayat bergelimpangan

Saya sampaikan dengan penuh rasa heran: kalau bukan karena syairku # apakah umat ini akan bangun atau tetap tidur?

Jika mereka pada saatnya mereka tetap tertidur # maka katakanlah: bangunlah kalian, sudah tiba saat kalian bangun

Namun sekalipun peringatan telah sampai kepada pemimpin Negara, namun dirinya telah terdorong melakukan pembunuhan opini, tidak memahami akibat buruk dari pengabaian peringatan, sehingga runtuhlah negaranya dan tenggelamlah masa keemasan masa khilafahnya, dan ketika ditanya: Apa yang membuat kerajaan anda lemah setelah pada sebelumnya kuat dan kokoh pondasi-pondasinya? Dia berkata: “Karena adanya pembinasaan pendapat (opini).

Apakah para pemimpin arab dan Islam menyadari akan pelajaran ini, menemukan jati dirinya akan peringatan yang tulus ini, atau apakah akan terulang kembali kesalahan ini dan menghadpi kehancuran seperti sebelumnya?! Apakah para pemimpin Arab dan Islam memahami akan adanya ketergantungan dan keterkaitan yang erat umat Islam terhadap Al-Quds dan masjid Al-Aqsha, bahwa eksistensinya tergantung pada sikap yang benar terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi umat, terutama permasalahan masjid Al-Aqsha dan Palestina.

Bahwa hal tersebut tidak akan ada yang mampu memberikan kekuatan di muka bumi guna melindungi pemerintahan dari kemarahan bangsa yang tidak menerima jatuhnya Al-Quds dan masjid Al-Aqsha, yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah bagaimana cara menolaknya terutama bagi orang yang mengabaikan tempat-tempat suci dan mengkhianati permasalahan yang sedang dihadapinya?!

Saya tidak menduga tidak semua cendekiawan dari para tokoh dan budayawan serta pemikir dari umat ini semuanya tidak memiliki ikatan yang kuat dan jelas menyembunyikan terhadap apa yang terjadi di Palestina dan apa yang terjadi di belahan dunia Arab dan Islam, baik apa yang terjadi karena ulah perang Amerika dan Barat seperti di Iraq dan Afghanistan, atau apa yang terjadi karena berbagai intrik perang saudara, seperti yang terjadi di Sudan, Somalia, Yaman, Pakistan dan lain-lainnya, atau apa yang terjadi oleh karena adanya konspirasi dengan menebar fitnah seperti di Iran, atau apa yang telah dicapai untuk melakukan penahanan dan perdiskreditan warga Arab dan umat Islam dan para penyeru kebaikan dan reformasi di Mesir, Tunisia dan yang lainnya, atau apa yang terjadi dari berbgai tindakan pemalsuan keinginan umat, kecurangan pemilu yang terjadi dimana-mana; sehingga tidak mampu diterima oleh orang-orang yang tulus akan permasalahannya, dan para pelindung dan penjaga kehormatan dan tempat-tempat sucinya, atau juga terhadap apa yang terjadi penghancuran nilai-nilai, akhlak, peradaban dan eksistensi umat, dan adanya pemaksaan kehendak untuk mengekor pada nilai-nilai, perilaku permisif barat di tengah masyarakat Islam, yang semua itu tampak sempurna terjadi oleh kerja proyek zionis Amerika.

Proyek zionis ancaman bagi seluruh dunia

Para cendekiawan dn tokoh di dunia ini sadar bahwa proyek zionis merupakan proyek rasial dan imperialis, dan apa yang dilakukan mereka dari berbagai tindak kejahatan setiap harinya di Palestina merupakan aib bagi kemanuisaan dan merupakan penistaan terhadap berbagai perjanjian dan nilai-nilai kemanusiaan, bertentangan dengan norma-norma yang dianut oleh dunia, dan bahwasanya eksisnya rezim rasial yang tidak mengenal bahasa lain kecuali membunuh dan merusak merupakan ancam bagi keamanan dan kedamaian dunia; karena itu, orang-orang yang cinta kemerdekaan di dunia ini dituntut untuk berdiri dalam satu barisan guna melawan para penumpah dan penghisap darah yang telah memotori berdirinya entitas penjajah dan perampas ini, dituntut untuk membela warga Palestina, membantu menyelamatkan bangsa Palestina yang terzhalimi, dituntut untuk melintasi berbagai arah sehingga dapat mengambil sikap yang tegas dalam menetapkan hak, menyebarkan keadilan, kebebasan dan kemanusiaan di seluruh negeri, dan bangsa Barat hendaknya menampakkan perannya dalam menekan pemerintah Barat; untuk bersama-sama menghentikan dukungannya kepada entitas zionis yang telah banyak menebar permusuhan, kezhaliman dan kelalimannya, dan keangkuhannya yang selalu menisbatkan entitasnya sebagai bagian yang berada diatas undang-undang.

Tahiyah dan raja (selamat dan harapan)

Kami menyadari bahwa banyak dari orang-orang merdeka dan tokoh di dunia Barat memahami akan kondisi ini, dan banyak dari mereka memiliki peran yang sangat besar dan usaha yang gigih dalam mengumpulkan fakta dan realita guna menuntut tindakan entitas zionis yang zhalim terhadap warga Gaza yang sabar dan tegar, dan kami memberikan selamat kepada seluruh lembaga dan personal yang telah bergerak dan berjuang untuk membela kebenaran, dan kami menyeru kepada mereka semua untuk tetap tabah dan tegar atas prinsip-prinsip kemanusiaan yang mulia, tidak berputus asa atau merasa gagal terhadap apa yang telah dicapai atau belum tercapai dari usaha menggagalkan rencana zionis Amerika terhadap bangsa Arab dan Palestina; sedangkan mereka yang loyal kepada Zionis -pada hakikatnya- tidak mewakili umat, namun mewakili diri mereka sendiri dan lembaga-lembaga serta kursi yang berusaha mereka pertahankan dan mendapatkan upah darinya; guna memberikan sikap dan keputusan yang tidak memberikan kebaikan bagi umat dan bangsa mereka.

Adapun bangsa Palestina yang percaya dengan problematika mereka, ikhlas dan tulus bersama bangsa dan umatnya; maka mereka akan selalu bersama dengan seluruh bangsa Arab dan Islam, menghargai usaha yang telah dikorbankan oleh para tokoh dan pejuang kebenaran guna menolak kezhaliman, mempertahankan kebenaran dan melawan permusuhan.

Dan kami yakin bahwa kemenangan pada akhirnya akan berpihak pada kebenaran, keadilan dan cahaya, seperti yang dijanjikan Allah SWT:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”. (Ghafir:51)

Allah Akbar walillahilhamdu…

Dan shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabatnya…

Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

Minggu, 01 November 2009

Haniyah: Hamas Dukung Perdamaian Sejati yang Mengakhiri Penjajahan

2 komentar


Gaza-Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyah, menegaskan Gerakan Perlawanan Islam Hamas tidak anti perdamaian, namun pro perdamaian. Dia mengatakan Hamas mendukung perdamaian sejati dan adil; yang mengembalikan hak-hak rakyat Palestina dan mengakhiri pendudukan.

Hal tersebut disampaikan Haniyah dalam pertemuan dengan delegasi medis AS istana perdana menteri di barat Kota Gaza pada hari Rabu (28/10). Dia mengatakan tidak ada keberatan untuk melakukan dialog dengan pemerintah AS yang dipimpin oleh Barack Obama dan menyambut baik bahasa baru yang digunakan Obama. Tetapi mereka ingin aplikasi tindakan dan bukan kata-kata saja; sampai rakyat Palestina mendapatkan dukungan hakiki terhadap tuntutannya, yakni pembentukan sebuah negara merdeka dengan ibukota di al Quds (Yerusalem).

Dia menjelaskan bahwa pemerintah yang dipimpinnya dipilih oleh rakyat Palestina. pemerintahnya tidak mengalami masalah dengan bangsa Amerika; karena merupakan bangsa yang mampu menciptakan stabilitas di seluruh kawasan dunia, termasuk di Jalur Gaza, seandainya mau bertindak sesuai dan tidak berhenti atau mundur dari sikap-sikapmua yang sudah dinyatakan.

Dalam pertemuan tersebut Haniyah kembali menyatakan menyambut baik dan bahagia dengan kunjungan delegasi Amerika ke Gaza. Dia berterima kasih atas layanan kemanusiaan dan social yang mereka berikan. Dia menyatakan bahwa kunjungan ini mempunyai arti khusus. Menurutnya segmen besar rakyat Amerika sangat menolak blokade terhadap Jalur Gaza dan perang terbaru yang dilancarkan Israel terhadap daerah tersebut.

Dia mengatakan terus mengikuti demonstrasi dan pawai yang terjadi di Amerika sebagai bentuk solidaritas kepada rakyat Palestina. Dia menambahkan, "Banyak delegasi Barat yang mengunjungi Jalur Gaza, mereka dilihat tingkat penderitaan yang belum dialami siapa pun dalam perjalanan sejarah; diblokade selama lebih dari tiga tahun."

Dalam kesempatan tersebut Haniyah menyatakan keyakinannya pada aturan permainan demokrasi, pluralitas dan pergantian pemerintahan secara damai. Dia merasa terkejut pada tidak adanya penghormatan dan penerimaan orang-orang yang menuntutnya. Dia menegaskan bahwa bangsa Palestina dihukum karena memilih wakil-wakilnya dari Gerakan Perlawanan Islam Hamas dalam pemilu transparan yang disaksikan seluruh dunia. (seto)

infopalestina

Boikot Ekonomi… Fardhu Ain Atas Umat Islam

0 komentar

Ditulis oleh Muhammad Yusuf

Penterjemah:

Abu Ahmad

_______

Dalam rangka membela anak-anak, wanita dan orang tua yang terbunuh oleh senjata zionis yang keji.

Dalam rangka membela warga yang sakit dan terluka akibat blokade dan agresi militer zionis.

Dalam rangka membela rumah-rumah yang hancur oleh tangan kotor zionis.

Dalam rangka memobilisasi masa secara nyata untuk mendukung ketegaran umat Islam di Gaza.

Dalam rangka memberikan tekanan ekonomi atas musuh zionis.

Dalam rangka menahan laju tekhnologi militer zionis.

Dalam rangka memberikan dampak negatif pada sistem kapitalisme zionis dan pengaruh-pengaruhnya.

Dalam rangka menjaga kehormatan kita; umat Islam dan Arab.

Dalam rangka memerangi normalisasi dengan Zionis.

Dalam rangka menghormati lembaga-lembaga resmi terhadap konsnsus yang keluar untuk kemaslahatan bersama.

Untuk itu semua, kami menyeru seluruh bangsa Arab dan Islam dan hati nurani umat manusia untuk mengefektifkan boikot ekonomi terhadap berbagai produk Zionis dan Amerika pada urutan pertama pertama, dan produk-produk Negara Eropa yang mendukung agresi brutal, sehingga mengakibatkan jatuhnya korban dari sipil dan tidak berdosa dan yang terluka pada setiap menitnya.

Syari’at boikot

Para ulama menegaskan bahwa boikot ekonomi saat ini telah menjadi wajib Ain atas setiap Muslim laki-laki dan perempuan.

Dalam Fatwanya, DR. Yusuf al-Qaradawi, ketua persatuan ulama Islam internasional mengatakan bahwa bentuk jihad banyak ragamnya; Ada jihad melalui tangan, ada jihad melalui lisan, ada jihad melalui hati dan ada jihad melalui boikot; jika semua dapat memperlemah kekuatan musuh, memperlemah duri-durinya, dan berbagai sarana lain yang mampu dilakukan oleh setiap individu muslim untuk memboikot musuh maka lakukanlah.

Beliau mengatakan bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang muslim dengan cara apapun menjadi pakaian atau memberikan bantuan kepada musuh agamanya dan musuh negerinya, baik musuh tersebut adalah Yahudi atau kaum animisme atau yang lainnya; Seorang Muslim harus berada berlawanan dengan musuhnya, terutama yang telah melanggar hak-hak dan kewajibannya, melecehkan kehormatannya dengan berbagai cara. Dan minimal yang dapat dilakukan adalah melakukan boikot; karena setiap dinar atau riyal, atau setiap Qirsy atau setiap rupiah yang kita berikan kepada musuh, maka berarti kita telah memberikan kepadanya peluru atau seharga peluru yang nantinya akan bersarang ke dada seorang muslim; karena harta yang kita berikan akan menjadi alat untuk membeli senjata dan digunakan untuk membunuh saudara kita di Jalur Gaza.

Syeikh Faisal Mawlawi dalam fatwanya menegaskan bahawa memboikot barang-barang yang berasal dari Amerika dan Inggris yang diluncurkan oleh para ulama dan para pemimpin gerakan Islam muncul karena Amerika Serikat ikut serta membantu dan mendukung entitas Zionist dengan uang dan senjatanya, yang dengannya pula membuat zionis terus melanjutkan penjajahannya terhadap bumi Palestina dan mengusir sekitar 4 juta penduduknya, sehingga mereka berpencar dan terlantar di berbagai pelosok negeri, dan disertai dengan melakukan penghinaan dan kekerasan terhadap warga yang masih tinggal disana.

Beliau menambahkan, bahwa Amerika Serikat setiap tahunnya memberikan bantuan sebesar 4 miliar dolar kepada Zionist sebagai bantuan resmi, hal tersebut diterjemahkan secara nyata untuk menjadi peluru dan bom yang digunakan untuk membombardir dan menyerang Jalur Gaza. Maka dari itu, setiap negara yang memberikan bantuan seperti itu, maka secara syar’i, kita wajib memboikot segala barang produknya; secara prioritas, makna tersebut bukan antara halal dan mubah, namun antara haram yang paling keras dan haram paling ringan.

Dan Pada waktu bersamaan, kegagalan negosiasi politik Arab politik dalam usaha menghentikan agresi Zionist yang keji di Jalur Gaza, dan munculnya banyak reaksi dan demonstrasi masa yang mengecam agresi zionis ini, sehingga menjadikan pembicaraan tentang boikot ekonomi merupakan hakikat syar’i sebagai ungkapan rasa solidaritas terhadap warga yang tertindas di Jalur Gaza.

Sisi ekonomi

Beginilah hasil dari uang yang kita berikan kepada zionis

Beginilah hasil dari uang yang kita berikan kepada zionis

Sementara itu para pakar ekonomi memandang bahwa kembalinya pembicaraan tenjtang boikot saat ini merupakan

pukulan telak dan keras dari Arab kepada entitas zionis dan terhadap orang-orang yang berada di belakangnya seperti negara-negara Eropa dan Amerika; manfaatnya adalah untuk menegaskan bahwa masyarakat Arab dan umat Islam masih bisa berbuat dan ditangannya ada lembaran-lembaran penekan yang beragam yang tidak mampu dilakukan oleh para pemimpin dan rezim Arab yang hina “walau sekedar menghentikan konspirasi” untuk mengontrol atau melakukan pengawasan atasnya.

Sementara itu, seorang ekonom bernama Abdul Hafiz As-Showi menegaskan bahwa boikot ekonomi merupakan pelajaran sosial yang telah dibuktikan keberhasilannya sejak lama, dan permasalah blokade ekonomi dan boikot tidak dapat dipisahkan pada realitas politik.

As-Shawi menyebutkan beberapa contoh yang menegaskan bahwa kehendak politik adalah penggerak utama terhadap mesin global ekonomi, seperti Amerika Serikat saat mengembargo Kuba, penolakan Bank Dunia dan Amerika Serikat terhadap pendanaan proyek bendungan sehingga memaksa Mesir untuk menerima konsesi politik, dan dalam waktu dekat, Rusia akan menggunakan kerja sama gas untuk memaksa Ukraina dan negara-negara Eropa untuk menerima kondisi dan situasi politik tertentu.

As-Shawi juga menegaskan; bahwa ada kesempatan besar untuk mengefektifkan senjata boikot pada saat krisis keuangan global yang terjadi pada Amerika Serikat dan negara-negara Eropa pendukung utama agresi Zionis di Jalur Gaza; penggunaan minyak sebagai senjata pada saat ini, terutama pada saat krisis keuangan global dan kekurangan likuiditas, ditambah dengan potensi memberikan ancaman kepada negara-negara barat yang berkonspirasi yang berkemungkinan dipindahkannya aset Arab dari bank-banknya; sehingga akan memaksa negara-negara tersebut untuk mengambil posisi yang lebih netral dan manusiawi.

As-Shawi mengkritik kinerja media masa, yang menggambarkan bahwa boikot merupakan senjata yang tidak efektif namun justru akan merugikan ekonomi nasional dan mempengaruhi investasi asing, sehingga hal tersebut sebagai usaha yang gagal secara faktual.

Senjata yang menakutkan

Bebaskan Palestina dengan memboikot seluruh produk zionis

Bebaskan Palestina dengan memboikot seluruh produk zionis

DR. Jihad Subhi, dosen fakultas ekonomi di universitas Al-azhar setuju dengan pendapat As-Shawi. Beliau menegaskan bahwa boikot merupakan senjata menakutkan bagi perusahaan-perusahaan global yang dapat memberikan tekanan kepada pemerintah akan sikap politiknya yang tidak populis sehingga opini umum Arab dan Islam berubah, seperti yang terjadi ketika meletus intifada Al-Aqsha.

Beliau menegaskan bahwa boikot merupakan senjata paling ampuh dalam berbagai tingkatan politik dan ekonomi, – melalui proses matematika sederhana- bahwa masyarakat Arab yang jumlahnya 300 juta jiwa, jika 100 jutanya melakukan boikot atas satu produk Zionis, Amerika Serikat atau Inggris yang nilainya hanya satu pound Mesir (kira-kira saat ini sama dengan nilai Rp. 3000-red), maka kerugian akan ditanggung oleh perusahaan itu sebesar 100 juta pounds perhari sama dengan 25 juta dolar, dan ini hanya dalam satu produk, bagaimana jika kita melakukan boikot terhadap semua produk, maka akan memaksa pemerintah dan rezim-rezim Barat untuk mengambil sikap tidak seperti yang dilakukan sekarang.

Jumat, 30 Oktober 2009

Pasukan Penjajah Menculik Lebih Dari 288 Ribu warga Palestina

0 komentar


11/12/2008 | 12 Dhul-Hijjah 1429 H | 440 views
Oleh: Al-Ikhwan.net
GAZA – Pusat Informasi Palestina: Departemen Urusan tahanan dan pembebasan menegaskan bahwa penjajah Israel telah menangkap lebih dari (288) ribu warga Palestina sejak terjadinya gelombang Intifadhah al-Aqsha yang pertama pada bulan Desember 1987, dan seperti yang tercantum dalam laporan menandai perayaan ulang tahun ke-21 terjadinya Intifadhah al-Aqsha pertama, bahwa hingga pertengahan tahun 1994 tahanan di penjara Israel telah mencapai (210) ribuan, dan antara tahun 1994 sampai terjadi kembali gelombang Intifadhah al-Aqsha pada bulan September 2000 mencapai (10) ribuan yang ditahan, dan (68) ribu yang ditangkap selama terjadi Intifadhah al-Aqsha, dan hingga saat ini total yang ditangkap oleh pasukan penjajah mencapai (288) ribu orang dari segala usia.
Pihak Kementerian mengisyaratkan bahwa penangkapan warga Palestina oleh Pasukan Penjajah (800) ribu orang, dan 20% nya berasal dari warga Palestina.

Kondisi yang keras

Riyad Al-Ashqar Direktur Bagian Informasi pada departemen terkait menjelaskan bahwa kondisi penjara selama Intifadhah al-Aqsha pertama jauh lebih buruk dari sekarang, dan kondisi penjara saat ini jauh dari memenuhi syarat kehidupan yang sederhana, makanan yang disuguhkan sangat buruk dari segi kuantitas dan kualitasnya, dan tidak ada matras atau selimut atau pakaian, serta banyak Penjara yang tidak boleh dikunjungi; seperti penjara “Ketziot” yang terletak di gurun Negev, yang dibuka pada tahun 1988, warga tidak diperbolehkan untuk mengunjungi tahanan kecuali pada akhir tahun 1991, dan kekerasan fisik terjadi dalam interaksi penjajah dengan tahanan; sehingga dengan metode penyiksaan yang kejam padahal telah dilarang oleh undang-undang Internasional mengakibatkan 23 tahanan menemui syahid, ditambah dengan 5 warga yang mati syahid akibat adanya penyiksaan selama Intifadhah al-Aqsha.

Hal ini bukan berarti merupakan telah terjadi perubahan ke arah yang lebih baik untuk menghormati hukum internasional yang dilakukan oleh pasukan penjajah, namun pasukan penjajah pada beberapa tahun terakhir mulai melakukan metode penyiksaan psikologis dari penyiksaan fisik; seperti yang dijelaskan oleh sejumlah kecil dari para syuhada harakah, akan penyiksaan selama Intifadhah al-Aqsha, dan tindakan tersebut meningkat pada tindakan yang lebih keji terhadap para tahanan dan pelanggaran-pelanggaran tersebut bertambah keji hingga merambah pada semua lapisan masyarakat, dan mereka telah melanggar sebagian besar hak-hak yang telah diatur dalam konvensi internasional, dan bahkan mereka banyak mengeluarkanundang-undang dan peraturan sepihak untuk mempersempit kehidupan para tahanan; hingga ketika pada permasalahan ziarah melalui video conference, pememaksaan untuk mengenakan pakaian Portugis, dan melakukan penutupan account, dan lain-lainnya dari Undang-undang yang telah mengubah kehidupan tawanan menjadi neraka, ditambah kondisi kesehatan di penjara yang sangat memperihatinkan dan mengenaskan.

Penjara Baru

Al-Asyqor menyebutkan bahwa jumlah yang ditangkap sejak peristiwa intifadhah pertama lebih besar jika dibanding dengan Intifadhah al-Aqsha kedua; oleh karena adanya kontak langsung antara warga Palestina dengan pasukan penjajah yang telah menguasai penuh wilayah Palestina; karena itu pasukan penjajah mulai membuka penjara baru untuk menampung banyaknya warga yang ditangkap.

Di antara yang paling menonjol dan terbesar dari penjara dibuka oleh pasukan penjajah selama Intifadhah al-Aqsha pertama adalah penjara Negev; di penjara tersebut terdapat lebih dari (100) ribu tahanan; mereka di eksekusi oleh pasukan penjajah dengan berbagai bentuk penghinaan dan penganiayaan; mulai dari memaki-maki, menyiksa dengan pukulan yang keras hingga menyemprotkan gas beracun .

Kemudian penjara tersebut ditutup oleh karena adanya penyusutan jumlah tahanan setelah perjanjian Oslo; yang menghasilkan dibebaskannya ribuan tahanan, namun penjara tersebut kembali dibuka pada tahun 2002 untuk mengakomodasi jumlah tahanan setelah meletusnya peristiwa intifadhah al-Aqsha kedua dengan kondisi yang lebih keras; dimana pihak manajemen penjara mendirikan sebuah penyangga yang tinggi antara dinding beton bagian dalam hingga mencapai 8 meter, untuk mencegah terjadinya kontak dan komunikasi antara sesama tahanan dan mengurung mereka di dalam canton -canton penjara; hal tersebut dirancang untuk melakukan tekanan dan pemaksaan terhadap tahanan.

Pihak manajemen penjara juga menggunakan metode terapi kecut pada sejumlah tahanan terutama setelah lewat tengah malam; para tahanan dipaksa untuk keluar dari penjara menuju halaman penjara dan duduk di atas tanah tanpa memperhitungkan kondisi cuaca; panas yang tinggi atau dingin yang menusuk tulang dan hujan, mereka dikelilingi oleh prajurit bersenjata berat dan gas dari berbagai arah dan sisi, kemudian melakukan penghitungan satu per satu, lalu melanjutkan operasi dalam waktu yang lama, dan di tempat tersebut mereka menyebarkan berbagai serangga dan binatang reptil beracun. Selain itu, mereka dilarang untuk dikunjungi oleh keluarga mereka dalam jangka waktu yang lama, dan mencegah keluarga-keluarga tahanan yang datang untuk mengunjungi walaupun setelah melakukan perjalanan panjang dan sulit serta menghadapi prosedur yang rumit dan berbelit untuk sekadar memberikan pakaian dan makanan kepada anak-anak dan keluarga mereka yang ditahan.

Tahanan Terlama

Al-Ashqor menjelaskan bahwa di dalam penjara penjajah terdapat 339 tahanan yang ditangkap sejak pecah Intifadhah al-Aqsha pertama dan sebelumnya, dan mereka adalah tahanan terlama yang ditolak oleh penjajah untuk dilepaskan dengan alasan bahwa tangan mereka berlumuran darah orang-orang Yahudi, dan dalam penjara penjajah terdapat (136) orang tahanan yang berasal dari Tepi Barat, dan yang terlama dan tertua di antara semua tahanan tersebut adalah Nail Al-Barghouti, yang ditahan sejak tahun 1978, dan sejumlah (134) tahanan dari Jalur Gaza, dan yang terlama dan tertua di antara merela adalah Salim Al-Kayal, yang ditahan sejak tahun 1983, dan terdapat (46 tahanan) tahanan terlama yang berasal dari kota Al-Quds dan yang paling lama di antara mereka adalah Fuad Ar-Razim yang ditahan sejak tahun 1981, (20) tahanan dari wilayah terjajah sejak tahun 1948 dan tahanan terlama di antara mereka adalah Sami Khalid Yunus, yang ditahan sejak tahun 1983, serta (3) warga Arab yang ditangkap, dan yang terlama di antara mereka adalah Basyar Sulaiman Maqt ditahan sejak tahun 1984.

Dalam sebuah laporan menunjukkan bahwa sejak tahun 1967 penjajah zionis telah melakukan penangkapan lebih dari (800) ribu warga Palestina, dan masih terdapat (11.500) tahanan di dalam penjara penjajah, termasuk (310) tahanan anak-anak dari (7500) anak-anak yang ditangkap selama terjadi Intifadhah al-Aqsha, dan masih terdapat (85) tahanan lain yang masih berada dalam tahanan, serta ada (1000) yang terkena hukuman tidak adil yang dilakukan tanpa persidangan atau tuduhan terhadap mereka, serta terdapat (39) orang tahanan berasal dari Dewan Legislatif yang diculik oleh penjajah, dan lebih dari (1450) tawanan yang menderita sakit akibat kelalaian medis dan kesengajaan, Bahkan jumlah yang syahid dari pasukan harakah yang tertawan sebanyak (195) orang, (70) orang di antara mereka yang syahid akibat penyiksaan dan (48) orang yang syahid akibat kelalaian dan politik penelantaran medis yang disengaja dan (70) orang yang syahid akibat pembunuhan setelah penangkapan, serta (7) orang yang syahid akibat penembakan langsung terhadap mereka.

Pasukan penjajahan masih terus melakukan pelanggaran dan perlawanan terhadap hukum dan undang-undang internasional, pada sisi lain dunia internasional berdiam diri oleh tindakan penjajah Zionis yang terus berlanjut melakukan pelanggaran dan kekerasan terhadap tahanan.



Pejuang Palestina Memberikan Pelajaran Pahit Kepada Pasukan Penjajah di Penghujung Hari Kemarin

0 komentar

14/1/2009 | 16 Muharram 1430 H | 1,375 views
Oleh: Al-Ikhwan.net

Gaza – khusus:

Pada penghujung hari kemarin, di saat bumi Palestina khususnya Gaza penuh dengan darah dan syuhada, pasukan pejuang Palestina memberikan pelajaran pahit yang tidak akan pernah terlupakan kepada zionis; dimana brigade izzuddin al-Qassam berhasil membunuh dua tentara zionis di wilayah Salatin, bagian barat Beit Lahia, dan membombardir pusat militer Abu Mutaibiq, di wilayah tempat perang dengan tiga mortir hawn.

Sebagaimana pasukan gerilyawan Al-Quds, sayap militer gerakan bersenjata Jihad Islam mengumumkan keberhasilan unit pertahanannya membombardir mesin perang dan artileri Zionis yang terletak di Netzarim dengan 8 mortir hawn berkaliber berat dan memiliki panjang 100 mm, dan juga membombardir lokasi militer “Miguén” dengan 6 mortir hawn yang berkaliber sama, serta berhasil membombardir daerah yang dirampas Kafar Izza dengan roket berjenis “Al-Quds”.

Brigade Al Aqsa dan Brigade burung nazar Palestina juga mengumumkan telah berhasil membombardir daerah yang dirampas Kafar Izza dengan tiga mortir hawn.


Kamis, 29 Oktober 2009

Penjelasan Penting Tentang Al-Aqsha

0 komentar
Oleh : Ahmad Khalifah (Ketua Lembaga Kemakmuran Masjid Al-Aqsha)


Mukaddimah

Baitul Maqdis adalah kota terbesar di Palestina maupun di wilayah Syam. Ia adalah kota paling tua yang dibangun manusia sampai saat ini. Peninggalan-peninggalan terbesar menunjukan bahwa kota ini sudah ada sejak enam ribu tahun yang lalu.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh Abu Dzar Al-Gifari. Abu Dzar bertanya ya Rasulallah, masjid apa yang paling pertama dibangun ? Rasul menjawab, Masjid Al-Haram. Kemudian ku bertanya lagi, kemudian apa ? Rasul menjawab kemudian Masjid Al-Aqsha. Abu Dzar bertanya berapa jarak antara keduanya ? Nabi menjawab, 40 tahun. Kapan saja engkau mendapati masjid tersebut (al-Aqsha) maka shalatlah di dalamnya karena di sana ada keutamaan yang Allah janjikan. (HR. Bukhari )

Berarti masjid ini sudah dibangun sementara manusia belum ada. Atau masjid ini tidak pernah digunakan orang selama puluhan ribu tahun, hingga awal permukiman kota pada jamanya Romawi. Bangsa-bangsa saling memperebutkan kota ini. Ketika ada satu bangsa memakmurkanya kemudian bangsa lain menguasainya dan mengancurkanya. Kota ini sudah dibangun dan dihancurkan sebanyak tujuh kali.

Ketika para ilmuwan purbakala menggali peninggalan al-Quds, mereka menemukan sisa-sisa perdaban manusia dalam rentang waktu berabad-abad dalam kebudayaan yang berbeda. Namun sayang sisa-sisa kebudayaan tersebut kebanyakanya sudah hilang ditelan zaman. Bukan hanya karena waktu, juga dikarenakan tangan-tangan manusia yang senang berbuat kerusakan. Allah Ta’ala berfirman, “Apa yang menimpa kalian dari mushibah itu karena perbuatan tangan-tangan kalian… (As-Syura 30).

Adapun sejarah yang pernah mencatatnya, perlu beberapa catatan di dalamnya. Seperti keberadaan bangsa Yabusin yang pernah membangun pertama kali kota ini. Bangsa ini hidup diperkirakan pada 5000 tahun sebelum Masehi. Kota ini dulu dinamakan kota Yabus kemudian diganti dengan Godhet atau kota Dawud. Kota ini kemudian dikuasai oleh bangsa Yahudi pada tahun 1049 sebelum Masehi, sebelum datangnya bangsa Farsi pada tahun 586 SM yang mengusir mereka dari kota ini. Selanjutnya kota ini berada dalam pemerintahan Yunani pada kira-kira tahun 332 SM. Lalu bangsa Roma pada tahun 63 SM. Sementara itu Hedroyan mengklaim bahwa al-Quds telah dikuasai banga Eliya Kaptolina pada tahun 332 SM. Kemudian dikuasai bangsa Bizantium sejak tahun 330 SM.

Terakhir pada zaman penaklukan Islam yaitu pada tahun 636 M atau bertepatan dengan tahun 15 Hijriyah kota ini dibawah kekuasaan ummat Islam di bawah kakhalifahan Umar Ibnu Khottob. Umar lah yang pertama-pertama mengadakan perombakan kota tersebut dengan memakai metode modern yaitu dengan adanya pembagian tugas dan hak. Pembagian kewajiban serta perlindungan terhadap kaum Nashrani. Tetapi jangan sekali-kali Yahudi diperbolehkan tinggal di sana.

Teks Perjanjian Umariyah

Bismillahirrahmanirrahim

Hamba Allah, Umar Amirul Mukminin dengan ini memberikan keamanan bagi warga Eliya. Aku telah memberikan mereka keamanan bagi diri-diri mereka, harta-harta mereka, gereja-gereja mereka serta keturunan mereka. Orang-orang sakit ataupun yang sehatnya berikut ajaran keyakinanya mendapatkan perlindungan. Gereja mereka jangan diambil atau dihancurkan. Mereka tidak boleh diusir tidak juga terhadap keturunanya mereka atau sedikitpun harta-harat mereka. Mereka jangan dipaksa keluar dari agamanya. Tidak boleh dianiaya. Tetapi tidak ada seorang yahudi pun yang boleh tinggal di kota Eliya ini. Warga Eliya diwajibkan membayar jizyah, sebagaimana diperlakukan kepada warga Madain. Mereka harus memisahkan diri dari Romawi dan dari para pencuri. Barang siapa yang keluar diantara mereka, maka ia akan aman, dirinya dan hartanya hingga sampai tempat perlindungan dirinya. Barang siapa yang tinggal (di Eliya) maka dia juga akan aman. Bagi dirinya sebagaimana bagi warga Eliya terkait kewajiban Jizyah. Siapa saja dari warga Eliya yang mau pergi bersama Romawi dan keluar dari perjanjian ini bersama keturunanya, maka ia aman atas dirinya, keturunanya hingga ia sampai ke tempat perlindunganya. Barang siapa yang sudah ada di sana sebelum peristiwa (pembunuhan ini), maka ia bebas. Jika mau tinggal maka baginya sebagaimana warga Eliya dari Jizyah atau ia mau pergi bersama Romawi (terserah dia) barang siapa yang kembali ke keluarganya maka tidak boleh diambil darinya sedikitpun, hingga ia memanen tanamanya.

Tulisan ini adalah perjanjian dengan Allah, RasulNya, Para Khalifah Kaum Muslimin. Jika mereka memberikan apa yang diwajibkan bagi mereka berupa Jizyah. Hal ini disaksikan oleh Kholid bin Walid, Amer bin Ash, Abdurrahman bin Auf dan Muawiyah bin Supyan. Di tulis dan disaksikan pada tahun 15 H.

(bersambung)





Bahaya yang mengancam Al-Quds dan Al-Aqsha

0 komentar
Oleh Prof DR. Ahmad Yusuf Abu Halabiyah


Penodaan yang terus berlanjut terhadap kota suci Al-Quds berikut Al-Aqsha dan tempat suci lainya merupakan bahaya laten yang termasuk dalam Grand Design Yahudi dalam rangka meyahudikan kota Al-Quds. inilah yang tergambar dalam pengusiran secara sistematis terhadap bangsa Palestina dan Arab dari kota tersebut dan menjadikan bangsa Palestina sebagai minoritas di wilayah itu. Kemudian mereka membuat undang-undang hak kepemilikan terhadap tanah yang ditinggalkan tuanya, bersama dengan sisa-sisa keislamannya. Mereka juga melakukan berbagai usaha untuk menghancurkan al-Aqsha serta membangun Haikal yang mereka klaim berada di bawah Masjid Al-Aqsha.

Diantara strategi untuk menguasai Al-Quds berikut masjid dan tempat sucinya, mereka melakukan dalam berbagai sisi, sebagai berikut ini :

Pertama : Dalam Bidang Pertanahan

  1. Mengeluarkan 25 UU dan Intruksi untuk menggusur tanah dan ladang milik warga Arab yang dimilki secara sah. Diantara UU tersebut adalah UU tentang kepemilikan harta yang ditinggalkan tuanya. Disamping itu ada UU zona hijau, UU Penggusuran untuk kepentingan umum, UU pajak yang mencekik leher terhadap tanah dan ladang milik para petani, hingga mereka tak bisa bayar. Dan terakhir UU perlindungan alam.
  2. Membekukan atau membatalkan gedung baru yang dibangun untuk warga Arab Palestina. Larangan memperluas bangunan, di bawah atau di atasnya. Merubuhkan rumah-rumah yang dianggap tidak mempunyai izin tertulis dari pemerintah Israel. Sampai sekarang sudah 550 rumah yang dihancurkan dengan alasan tanpa surat izin dari pemerintah.
  3. Membuat koloni permukiman Israel di tanah rampasan. Sampai saat ini sudah 35 % wilayah Al-Quds menjadi permukiman Israel yang dulunya perkampungan bangsa Arab.
  4. Membuat tembok rasial yang menggabungkan wilayah jajahan Israel sekaligus mengeluarkan perkampungan Arab dari wilayah Al-Quds. Kemudian menyatukan sejumlah permukiman Israel menjadi bagian dari kota Al-Quds terjajah.

Kedua : Dari sisi Demografi

Israel membuat sejumlah siasat untuk mempercepat perubahan demografi di wilayah Al-Quds dengan berbagai cara. Diantaranya,

  1. Mengambil KTP warga Al-QUds dengan berbagai sebab kemudian membatalkan kependudukan mereka di Al-Quds dan berupaya mengusirnya ke luar Al-Quds.
  2. Melakukan intimidasi dan tekanan agar warga arab Al-Quds agar tidak betah di sana. Seperti yang terjadi dengan 160 keluarga yang memilih meninggalkan al-Quds karena tidak kuat dengan tekanan. Sejak tahun 1967 sudah 17000 warga Al-Quds memilih keluar dari sana, ditambah sebelumnya sudah keluar sekitar 12000 warga dari Al-Quds dan menetap mash di wilayah Palestina. sementara itu, 8000 lainya memilih tinggal di luar Palestina lainya, ketika terjadi ekspansi Israel ke Al-Quds.
  3. Membodohi warga Arab dan berupaya untuk merusak akhlaknya, melalui menuman keras atau narkoba secara massif, agar generasi Palestina tidak peduli lagi terhadap masalah Negara dan agamanya.

Itulah berbagai upaya Israel untuk meyahudikan kota Al-Quds secara geografi maupun demografi. Sementara itu mereka juga mendapat berbagai kseulitan untuk hidup di tengah komunitas yahudi di Al-Quds, seperti,

  1. Susahnya memperoleh kewerganegaraan Israel, terutama bagi mereka yang identitas Palestinanya hilang atau dirampas Israel.
  2. Sulitnya mendapatkan kewarganegaraan asing di Al-Quds. barang siapa yang kedpaatan tidak punya identitas selama tiga bulan di Al-Quds maka akan segera dideportasi keluar al-Quds.
  3. Warga Palestina yang tinggal di Al-Quds, tidak diperbolehkan mempunyai KTP Palestina, berdasarkan kesepkatan Oslo.
  4. Meraka yang berkewarga negaraan Yordania pun, tidak diperkenankan tinggal di Al-Quds, sesuai kesepakatan Wadi Arabi.

Dengan demikian, maka Al-Aqsha dan Al-Quds serta tempat suci lainya diambang bahaya yang sangat besar yang datang dari semua sisi kehidupan. (asy)

Laporan TIM Al-Quds di Dewan Parlemen Palestina


Mish'al: Kami tidak berada di saku Iran atau Suriah!

0 komentar
Khalid Mish'al, kepala biro politik Hamas


Manamah – infopalestina; -Kedatangan Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Mish’al ke Bahrain untuk menemui Raja Syeikh Hamd bin Isa al-Khalifah sangat mengejutkan semua pihak, baik politikus maupun para wartawan. Karena orang ini sangat hati-hati dan menyembunyikan pergerakan serta perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain karena persoalan keamanan semata. Kalau tidak demikian akan membahayakan dirinya, karena ia salah satu orang yang akan diancam bunuh oleh pihak 'Israel'. Kita masih ingat upaya pembunuhan Mish’al pada tahun 1997 yang dilakukan oleh antek-antek Mossad. Upaya pembunuhan yang gagal itu mengakibatkan mendiang Raja Yordania, Raja Husein marah besar dan memaksa pelakunya harus mengobati korbannya hingga sembuh.

Jadwal acara kunjungan ini juga “rahasia” jauh dari pantauan media massa. Tak ada ceramah dan konfrensi pers yang digelar. Sampai media lokal juga susah untuk mengadakan wawancara dengan Mish’al walaupun ada isyarat untuk itu. Hanya harian al-Rai Kuwait yang bisa memperoleh kesempatan tersebut.

Seperti biasanya, Mish’al menyambut kami sebagai wartawan dengan senyum yang ramah. Wawancara “panas” dengan beliau dilakukan di tengah malam, bersamaan waktu sahur bersama hidangan ala kadarnya di lemari es yang ada di kamarnya.

Kami berbicara dengan orang yang tahu betul seluk beluk gerakan Hamas yang kini menguasai Jalur Gaza dan kemungkinan di hari-hari mendatang akan bentuk hubungannya dengan Otoritas Palestina (OP), Arab, negara-negara di wilayah Timur Tengah dan dunia internasional.

Mish’al menegaskan bahwa “Pihak-pihak media Palestina berupaya memperburuk citra kami dan negara-negara yang berperan menjadi mediator mulai mengungkap sebuah fakta.” “Yang penting buat kami adalah terwujudnya kemaslahatan,” lanjutnya sambil menekankan bahwa “Pencarian semua kasus tanpa ada unsur dendam adalah cukup untuk membuktikan hal itu.”

Menjawab sebuah pertanyaan, Mish’al menyatakan bahwa “Siapa yang ingin menghormati legalitas kepala OP, maka ia harus juga menghormati legalitas dewan legislatif.” Dari sisi lain, Kepala Biro Politik Hamas ini menegaskan “Kami tidak berada di saku Suriah ataupun Iran, kami tidak menerima siapapun yang mencampuri urusan dalam negeri kami.” “Bagi Hamas siapa yang menang dalam pemilu presiden nanti tidak menjadi soal. Walau demikian, kami siap berinteraksi dengan perubahan obyektif dalam politik Amerika yang menghormati kehendak bangsa di wilayah Timur Tengah dan memperkecil keberpihakannya kepada Zionis 'Israel',” tegas Mish’al kembali. Berikut teks wawancara secara lengkap:

Hari ini Anda berkunjung ke Bahrain, dan sebelumnya ke sejumlah negara Arab lainnya, misi apa yang ingin Anda sampaikan kepada para pemimpin Arab yang Anda temui tersebut?

Pertama, kami sangat konsen dengan melakukan kontak dan interaksi di level pimpinan Arab, dunia Islam dan dunia internasional. Adapun persoalan yang kami bahas disini (Manamah), dan mayoritas dalam kunjungan kami di negara-negara Arab lainnya, mencakup banyak masalah, khususnya mengenai blokade Gaza dan bagaimana cara membebaskannya. Persoalan rekonsiliasi nasional juga kita bahas. Terus terang, dari hari ke hari, kami menemukan upaya penyesatan oleh sebagian pihak tentang sikap Hamas yang sebenarnya tentang rekonsiliasi Palestina. Dengan interaksi ini, kami ingin berupaya meluruskan kondisi dan mengungkap fakta kepada saudara-saudara Arab. Terutama setelah pembicaraan yang terjadi di tengah-tengah konfrensi menteri luar negeri Arab dan tudingan ke sebagian orang Palestina sebagai pihak yang bertanggungjawab atas apa yang tengah terjad di internal Palestina. Oleh karena itu, kami berupaya mempertegas sikap kami kepada semua pihak bahwa kami bersama rekonsiliasi Palestina hakiki berikut tuntutan-tuntutannya.

Kami juga berdiskusi dengan mereka (pemimpin Arab) tentang perundingan damai antara Palestina dan 'Israel' dengan menekankan pada pengungkapan sikap 'Israel' yang sebenarnya. Semua janji dan pernyataan-pernyataan sumbang yang diperdengarkan kepada orang-orang Arab, mengandung tipu muslihat semata. 'Israel' secara terang-terangan menolak berkompromi dengan empat agenda utama dalam perundingan. Empat agenda itu adalah masalah status kota Al-Quds, hak kembali, pembongkaran permukiman Yahudi dan penarikan pasukan dari wilayah-wilayah yang Yahudi jajah tahun 1967. Kami sampaikan kepada mereka dengan angka secara rinci. Realitanya, 'Israel' jika menerima usulan pertukaran tawanan maka 50% luas Tepi Barat dibawah kontrolnya. Ini sangat bahaya sekali.

Kami sangat yakin bahwa saudara-saudara Arab tidak akan memberikan payung apapun untuk perundingan yang melanggar hak dan pondasi nasional. Tak ada satupun seorang pemimpin Palestina yang bisa memberikan payung untuk perundingan seperti ini. Sementara di pihak kami, kami tidak akan menerima apapun perundingan yang bertentangan dengan apa yang sudah disepakati dan setujui oleh para faksi dalam dokumen konsensus nasional.

OP dibawah pimpinan Mahmud Abbas biasanya berhasil dalam merangkul dan menyatukan sikap politik resmi pemimpin Arab untuk berpihak kepadanya, begitu juga sikap Liga Arab yang terakhir. Anda selalu mengartikan itu semua sebagai sebuah tekanan dari Amerika. Namun pada akhirnya, inilah realita. Menurut Anda apakah gerakan Anda bisa menghadapi realita tersebut?

Kami tidak menilai bahwa pimpinan OP bisa menggiring pemimpin Arab kepada sikapnya. Begitu juga tidak semua sikap Arab satu, beragam. Bangsa Arab, seperti yang Anda ketahui adalah terdiri dari banyak negara dan kebijakan yang bermacam-macam. Kami selalu mengadakan kontak dengan negara-negara Arab itu. Dan sudah barang tentu negara-negara Arab ini mendengarkan dari kami dan dari orang lain. Kami juga tidak memungkiri banyaknya pengaruh, tapi persoalannya, pada akhirnya, tidak tertumpuh pada faktor penekan satu saja. Kami memiliki sejumlah catatan dan kecaman atas beberapa pernyataan Arab yang dikeluarkan sambil menuding orang-orang Palestina sebagai yang bertanggungjawab. Kami carikan jalan keluar dari masalah ini dengan melakukan kontak hubungan dengan orang lain dan menampilkan pandangan yang kami usung dalam persoalan rekonsiliasi. Menurut keyakinan saya, negara-negara Arab yang masuk dalam garis rekonsiliasi sejak setahun ini, mengetahui sikap Hamas yang sebenarnya dari rekonsiliasi ini. Mereka tahu bahwa Hamas lah yang membuka pintu rekonsiliasi dan mendorong negara-negara tersebut untuk mengupayakan secara sungguh-sungguh dan menjadi mediator dalam masalah ini.

Negara-negara ini juga tahu benar siapa penyebab utama yang ingin menjegal rekonsiliasi, baik faktor eksternal maupun internal. Maka dengan itu, kami tidak terlalu was-was akan karakter dari sikap pemimpin Arab. Terus terang, saya terus melakukan kontak hubungan dengan para pemimpin dan pejabat Arab. Gambarannya tidak seperti yang digambarkan oleh media massa dengan menggambarkan bahwa sejumlah pimpinan OP berhasil menggaet sikap pemimpin Arab. Ini hanya sebatas keinginan sebagian dari mereka. Hari-hari ini, menurut keyakinan saya, kesadaran semua orang sangat tinggi dan mulai tahu fakta yang sebenarnya. Walaupun tidak harus dinyatakan dengan pernyataan yang transparan. Walau demikian, kami tidak cukup berhenti di masalah-masalah ini saja. Karena pada akhirnya yang kami inginkan hanya satu saja yaitu tercapainya dialog nasional, terwujudnya rekonsiliasi dan persatuan nasional serta melangkah jalan ini secara serius. Hamas, sejak Juni 2007 telah menyatakan kesiapan dan persiapan untuk itu. Jika ada pihak lain yang sudah matang dan siap, maka mereka akan mendapatkan kami siap memberikan berbagai harapan. Tapi dengan syarat rekonsiliasi ini sungguh-sungguh dan tidak main-main yang mencakup semua agenda dan tuntutan Palestina agar kita bisa merealisasikan islah yang sebenarnya antara Fatah dan Hamas hingga sampai kepada semua faksi perlawanan Palestina lainnya.

Bagaimana Anda akan menghadapi sikap negara-negara Arab seperti Yordania, Mesir dan Arab Saudi yang secara terang-terangan mendukung legalitas Abbas. Anda juga tentu tahu bahwa tak ada islah yang bisa direalisasikan kecuali mendapatkan ketok palu dari negara-negara tersebut?

Kami di Hamas tidak mempermasalahkan tentang legalitas kepemimpinan Abbas di OP selama itu dihasilkan dari hasil pemilu. Bagi kami tidak ada masalah jika negara-negara Arab tadi bersama pimpinan OP. Tapi apa yang selalu kami sampaikan kepada negara-negara dan kami ulang-ulangi sejak setahun lalu, bahwa harus diperhatikan interaksi dengan semua lembaga-lembaga legal Palestina. Seperti kepala OP yang dipilih itu legal, begitu juga DPR Palestina legal. Hal yang sama berlaku pada setiap lembaga dan jabatan politik Palestina yang legalitasnya bergantung pada pemilihan dan hukum yang berlaku, maka semua pihak harus menghormatinya.

Kemudian tidak benar bahwa ketiga negara Arab yang Anda sebutkan tadi memblok kepada salah satu pihak dan tidak menerima pihak yang lain. Negara-negara Arab tadi berikut yang lainnya tidak semuanya pada sikap yang satu. Disana banyak sikap yang berbeda antara negara satu dengan lainnya. Kami menghormati setiap sikap yang ada walaupun kami berbeda dengannya. Juga, negara-negara itu berhak menentukan kebijakannya masing-masing. Jika kita sampai pada titik rekonsiliasi yang hakiki, orang-orang Arab itu akan tahu siapa yang sebenarnya bersama rekonsiliasi dan siapa yang melawannya. Walau demikian saya tetap berharap agar rekonsiliasi ini berhasil dan semua pihak menganggapnya positif. Kami selalu merespon dengan semua upaya Arab yang serius dalam soal rekonsiliasi ini. Kami tanda-tangani kesepakatan Kairo tahun 2005, di Mekkah tahun 2007 dan di San’a tahun 2008, sebagaimana yang kami lakukan sebelumnya. Hari yang akan datang kami akan terus melanjutkan dalam mensukseskan rekonsiliasi Palestina ini. Inilah tujuan kami jauh dari semua intrik-intrik yang lain.

Pembicaraan Anda tentang lembaga-lembaga formal mengingatkan saya dengan “pembantaian” yang terjadi dan yang akan terjadi pada UUD dalam situasi perpecahan antara Gaza dan Ramallah dimana masing-masing pihak menafsirkan hukum sesuai kehendaknya sendiri-sendiri. Dimulai dari legalitas pembentukan pemerintahan hingga ke konstitusional perpanjangan masa kekuasaan kepala OP dan pembubaran DPR serta yang lainnya. Bentuk perundingan hukum apa bagi perbedaan-perbedaan seperti itu berikut hasil-hasilnya jika nanti Anda duduk bersama di meja perundingan?

Sesuai jabatan, tanggungjawab dan keyakinan saya bahwa perlu sekali fokus pada hal yang nampak dan terlihat. Saya tidak peduli dengan rincian-rincian yang ada di dalam masalah ini atau masalah lainnya. Bagi saya yang paling mendasar adalah dua masalah, pertama UUD Palestina harus dihormati dimana setiap orang tidak keluar dari koridor ini walaupun memiliki interpretasi masing-masing. Pada akhirnya disana ada UUD, maka semua pihak harus menghormatinya dan komitmen menjalankannya karena ia sebagai hakim antara semua elemen masyarakat Palestina. Jika tidak, maka akan terjadi kekacauan. Kedua, untuk solusinya di tanah Palestina harus berdasarkan pada kaidah rekonsiliasi dan konsensus nasional. Dengan itu, semua masalah akan berjalan dengan baik. Tanpa itu, kita akan terjerumus dalam tarik ulur dan kekacauan yang akan berakibat negatif bagi bangsa dan rakyat Palestina itu sendiri.

Hamas dan Iran

Sejumlah pihak di Palestina, bahkan negara-negara Arab, menuduh Anda condong kepada politik Iran di wilayah Timur Tengah ini sebagai imbalan atas bantuan politik dan dana yang diberikan kepada gerakan Anda, apa komentar Anda?

Hubungan kami dengan Iran bukan berdasarkan pada hubungan antar negara-negara Arab. Hamas, sejak berdiri tahun 1987 tetap menjaga hubungan baik dengan semua negara Arab. Dalam waktu singkat hubungan baik itu terjadi antara kami dengan Kuwait, Iraq, Arab Saudi, Sudan, Yaman, Afrika bagian utara, negara-negara Teluk, Suriah dan Iran. Negara-negara ini sangat menjaga untuk menjauhi bentuk-bentuk negatif yang negara lain sempat terjebak didalamnya, seperti memblok atau campur tangan dalam soal orbit. Semua pihak menyaksikan bahwa mereka tidak pernah campur tangan dalam krisis-krisis Arab, ataupun dalam problem dengan negara Arab manapun, baik negara itu sebagai teman ataupun lawan. Saya katakan lawannya karena Hamas tidak memusuhi siapapun. Kami terus akan mengetuk pintu semua saudara Arab karena dorongan emosional Arab. Tapi apa yang akan bisa kami lakukan jika sebagian negara tersebut ada yang tidak menyambut ketukan kami itu. Seperti pepatah Mesir yang mengatakan;”Cinta itu tidak datang dari satu pihak saja.”

Gerakan Hamas, seperti mereka tidak ikut campur tangan orang lain, gerakan ini juga tidak mengizinkan kepada siapapun untuk campur tangan dalam urusannya. Dan menurut keyakinan saya, negara-negara Arab itu termasuk pihak yang lebih tahu tentang hal itu. Hamas, walaupun memiliki hubungan erat dengan Iran namun tidak berada di sakunya. Begitu juga, Hamas tidak berada di dalam saku Suriah. Hubungan kami tetap berjalan dengan semua pihak berdasarkan pada kaidah saling menghormati. Kami terus menjaga keseimbangannya dan keseimbangan regional wilayah Timur Tengah serta kemaslahatan bangsa Arab secara menyeluruh.

Wawancara Eksklusif dengan Juru Bicara Brigade Al-Qassam

0 komentar
Abu Ubaidah, Juru Bicara Brigade Al-Qassam


Gaza - ; Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, menegaskan bahwa perang ‘furqon’ membuat perubahan besar di tubuh bangsa Arab dan umat Islam. Perang ini juga membentuk kesadaran dan solidaritas cukup besar dalam pemahaman perjuangan dan jihad yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam wawancara khusus dengan infopalestina, Abu Ubaidah mengatakan;”Perang ini telah mencetak jutaan orang baru yang simpati dengan perlawanan dan perjuangan. Saya yakin hal itu akan bisa membentuk perubahan besar, barangkali tidak secepatnya, tapi, insya Allah, pada level sejumlah pemerintah, telah menjadi keyakinan bahwa dengan membantu perjuangan ini akan menjaga kemuliaan mereka.”

Berikut wawancara tersebut secara lengkap:

Di Medan Jihad…..

Menurut Anda, apa rahasia utama kemenangan ini?

Setelah itu berpulang kepada takdir Allah ta’ala, rahasia lain adalah karena keteguhan, kegigihan dan menjalankan rencana yang telah dirancang sebelumnya dalam menghadapi perang model seperti ini. Begitu juga pada keuletan Palestina di level masyarakat dan faksi-faksi perlawanan. Ditambah lagi taktik dan strategi militer yang handal berikut methode perang yang kami terapkan dalam menghadang militer Zionis Israel.

Tanpa merinci, tentu Anda sudah mendapatkan informasi tentang agresi ini sebelumnya, lalu bagaimana persiapan Anda dalam menghadapi perang ini. Khususnya pernyataan pihak Anda tentang strategi baru dalam menghadapi serangan dan Anda akan menggunakan senjata yang belum pernah digunakan sebelumnya?

Tentu kami sudah siap sampai pada kemungkinan-kemungkinan seburuk apapun yang bisa saja terjadi. Semua tindakan kami sesuai rencana sebelumnya dalam menghadapi serangan udara. Termasuk gebrakan pertama adalah kami berhasil melepaskan rudal jenis Grad dan Qassam yang sudah dikembangkan hingga menjangkau 40 km lebih. Menurut kami, pelepasan itu merupakan pukulan telak dan mengagetkan bagi pihak intelijen dan pimpinan militer Zionis Israel. Kondisi ini berlangsung hingga satu pekan penuh. Kemudian perang darat dimulai di medan perang. Jam-jam pertama terjadi beberapa pukulan telak saat militer Zionis Israel hendak merangsek masuk ke Jalur Gaza, walaupun wilayah tersebut sudah terbuka. Senjata dan alat-alat tempur militer Zionis Israel kami hadang dengan serangkain tembakan misil dan rudal. Baku tembak ini tetap berlangsung hingga diumumkannya gencatan senjata.

Setiap perang pasti memiliki kisah dan kejadian yang tidak bisa Anda lupakan, apa kisah dan kejadian tersebut?

Sebetulnya banyak kisah dan kejadian itu, tapi ada kejadian yang luar biasa dan historis. Salah satu pejuang Palestina saat itu tengah siap melakukan penyerangan ke sebuah kelompok serdadu Zionis Israel. Serangan itu sudah dilakukan dengan misil, terjadi baku tembak antara dia dengan kelompok serdadu ini. Ia diserang dengan misil hingga tangan kirinya hampir buntung. Namun pejuang ini tetap ingin menyerang dengan meledakkan bom di tengah-tengah serdadu Israel. Dan benar, ia berhasil meledakkan bom dan melarikan diri dengan selamat sementara tangan kirinya masih belum jatuh. Kondisi ini membuat dirinya tidak nyaman, hingga akhirnya, tangan itu ia patahkan sendiri. Setelah itu, kembali menyerang dengan semangat yang luar biasa.

Kejadian ini menjadikan serangan militer Zionis ditingkatkan terus kepada pejuang Palestina yang berada di sebuah tempat yang luasnya tidak lebih dari 0,5 km2, selama tujuh jam berturut-turut tiada henti. Saat diserang, para pejuang itu tetap shalat berdiri hingga selesai. Setelah selesai shalat di malam itu, dua pejuang gugur syahid dalam perang berani, melawan secara langsung (berhadap-hadapan) dengan serdadu Zionis Israel.

Seorang penulis Mesir, Muhammad Husnein Haekal, dalam wawancara televisi mengatakan;”Perang Gaza belum berakhir dan bahaya yang akan datang lebih besar dari apa yang dibayangkan oleh bangsa Arab….” Menurut Anda, karena posisi Anda selaku salah satu komandan di lapangan, bahaya apa yang dibicarakan Haekal itu?

Disana ada upaya dari pihak Zionis Israel dengan penggagasan sikap politik yang akan bisa membahayakan bangsa Arab semuanya, bukan terhadap perlawanan jihad. Termasuk akan membahayakan kepemimpinan Mesir, khususnya berkenaan dengan penghentian penyelundupan senjata. Oleh karena itu bahaya ini melampaui diluar wilayah Jalur Gaza. Saya berharap bahaya ini menjadi faktor penggugah para pemimpin Arab.

Di masyarakat Arab tersebar berita bahwa perang furqon ini akan merubah keadaan, menurut pendapat Anda perubahan itu seperti apa?

Disana akan ada perubahan besar di dunia Arab dan Islam. Perang ini juga membentuk kesadaran dan solidaritas cukup besar dalam pemahaman perjuangan dan jihad yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perang ini telah mencetak jutaan orang baru yang simpati dengan perlawanan dan perjuangan. Saya yakin hal itu akan bisa membentuk perubahan besar, barangkali tidak secepatnya, tapi, insya Allah, pada level sejumlah pemerintah, telah menjadi keyakinan bahwa dengan membantu perjuangan ini akan menjaga kemuliaan mereka.

Masyarakat Arab mengatakan bahwa jumlah syahid di perang ini (khususnya warga sipil) sangat besar, menurut penilaian Anda seperti apa?

Memang jumlah syahid besar dan Zionis Israel sengaja membunuh mereka. Di lima menit pertama perang saja, sudah 200 syahid yang gugur, sebagian besar dari kalangan sipil. Ini yang sengaja dilakukan pihak Israel untuk menekan pejuang Palestina dan memukul telak. Selama perang, Israel sengaja membidik warga sipil agar kami mau kompromi dan mundur. Namun di lapangan, keadaan itu berubah drastis dan perang memaksa kami untuk terus melawan tanpa henti. Maka Zionis Israel adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas hasil perang ini, dan tentu, bukan kami.

Bagaimana hubungan antara penduduk Gaza dengan pihak Anda selama perang? Dan sampai dimana hubungan itu berlangsung pascaperang sekalipun?

Hubungan itu bersifat saling menguatkan dan saling mendukung. Kami dan mereka sama-sama menjadi target militer Zionis Israel. Hal ini yang menjadikan mereka sangat erat dengan kami. Semua merasa satu perasaan bahwa perang ini adalah perang mereka juga. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain terus gigih dan teguh dalam perjuangan dan jihad. Setelah perang, kami begitu sangat dekat dengan penduduk. Kami ingin sama-sama menghapus luka dan duka yang dialami oleh bangsa Palestina.

Untuk penduduk Palestina di Tepi Barat, apa sikap mereka terhadap krisis ini? Apakah Anda memperkirakan sesuatu yang belum terjadi? Sikap penduduk Palestina ’48 juga seperti apa sikapnya?

Sikap penduduk Tepi Barat dan Palestina ’48 sangat responsif dalam melakukan sukungan dan solidaritasnya. Namun kami tahu kondisi mereka. Di Palestina ’48 masih dijajah, di Tepi Barat dua penjajahan (Israel dan aparat Abbas, red.). Untuk itu kami meminta perlawanan di Tepi Barat terus ditingkatkan.

Menurut Anda, sikap masyarakat Arab bagaimana selama ini?

Cukup bagus dan menunjukkan akan kesadaran yang tinggi dalam loyalitas. Tapi kami minta untuk ditingkatkan karena perang ini akan berlangsung lama. Kesadaran ini mudah-mudahan tidak bersifat emosional, tapi harus dibarengi dengan langkah-langkah dan program nyata agar bisa mencabut blokade dan menghentikan penjajahan.

Menurut Anda, bagaimana sikap pemerintah non Arab seperti Turki, Venezuela dan Bolivia terhadap perang ini?

Kami memandang sikap mereka lebih maju dibandingkan dengan pemerintahan Arab dan kaum muslimin lainnya. Memang sangat disayangkan. Sikap mereka ini lebih dekat kepada sikap masyarakat pada umumnya, walaupun itu hanya sekedar simbol saja atau dukungan moril. Kami harus menyampaikan rasa terima kasih kepada mereka, sikap mereka sikap pemberani.

Di Bidang Politik…..
Hamas sesekali setuju dengan gencatan senjata sementara, sesekali gencatan senjata panjang, apa pandangan Anda?

Kami siap untuk melakukan kesepakatan gencatan senjata yang hasilnya bisa dipetik untuk kepentingan perlawanan ketika upaya politik gagal. Kami ingin gencatan senjata sementara dibalas dengan pembukaan pintu perlintasan semuanya, menghentikan total blokade dan menghentikan agresi tanpa pelanggaran apapun. Terlebih khusus, permintaan tadi adalah permintaan rakyat, bukan permintaan partai atau kelompok tertentu, bukan pemberian dari siapapun. Inilah sikap kami yang selalu kami ulang-ulang. Jika tuntutan kemanusiaan tadi terealisir kami siap melakukan gencatan senjata untuk meringankan penderitaan bangsa dan rakyat Palestina.

Ada isu yang berkembang bahwa di dalam internal Al-Qassam terjadi pembangkangan terhadap kebijakan pimpinan politik Hamas, apa komentar Anda?

Ini isu murahan dan tidak berdasar. Ini hanya ada di benak orang-orang peragu dan pendengki. Saya ingin yakinkan kepada Anda bahwa impian itu tidak akan menjadi nyata. Seperti yang Anda ketahui, Hamas, dengan izin Allah ta’ala, dikenal di dunia politik modern sebagai kelompok yang solid antara kader dengan pimpinannya, baik di level politik, militer dan sosial. Kalaulah bukan kesolidan ini, tentu Hamas tidak akan mendapatkan dukungan besar seperti sekarang ini, baik di tingkat internal Palestina sendiri ataupun di regional dan dunia Islam.

Dalam situasi krisis ekonomi global sekarang ini, apa pengaruh ekonomi negara-negara pendukung Zionis Israel, khususnya Amerika, atas negara Yahudi itu? Lalu apakah hal itu berdampak pada kelompok Anda?

Kita semua berdo’a kepada Allah ta’ala agar krisis ini menghancurkan rezim penguasa yang zalim dan korup. Mudah-mudahan harta mereka membuat mereka tersiksa olehnya. Secara riil, krisis ini sangat berdampak kepada Zionis Israel. Bisa kami katakan bahwa seharusnya pemerintah Amerika menggunakan dana besar itu untuk memakmurkan di jalan kebaikan, daripada harus dihambur-hamburkan dan diberikan kepada geng-geng pembunuh dan penjahat Zionis Israel.

infopalestina

Rahasia Dibalik Penangguhan Laporan Goldstone Oleh Mahmud Abbas

0 komentar


Ramallah -; -Beberapa sumber terkait menyebutkan bahwa mereka yang mengambil keputusan menunda pengambilan suara atas laporan Goldstone adalah tiga orang. Mereka adalah Mahmud Abbas, Yaser Abdu Rabbu dan Saeb Uraekat serta mendapatkan lampu hijau dari Salam Fayyad.

Sumber-sumber tadi menegaskan bahwa Amerika dan Zionis Israel masing-masing menekan Mahmud Abbas dan Salam Fayyad untuk meminta penundaan laporan Goldstone, sesekali dengan bahasa mengharap dan sesekali dengan bahasa menekan.

Masih tambah sumber, pemerintah Amerika telah meningkatkan ancamannya kepada pemerintah Ramallah jika tidak mengindahkan permintaan penundaan di atas. Diantara ancaman-ancaman itu, jika pemerintah Ramallah tidak mematuhi perintah Amerika, adalah seperti berikut ini;

  1. Akan menghentikan peran dan upayanya guna melanjutkan perundingan damai antara Otoritas Palestina (OP) Ramallah dengan Israel.
  2. Menghentikan mengucurkan dana bagi OP dan pemerintah Salam Fayyad.

Sementara di pihak Zionis Israel, meminta pemerintah Abbas menarik tuntutan pengambilan suara atas laporan Goldstone dengan imbalan pemberian izin kepada perusahaan selular yang sebelumnya ditunda oleh pemerintah Zionis sejak lama. Salah satu pemilik perusahaan hand phone ini adalah anaknya Mahmud Abbas ditambah para pebisnis Israel dan Palestina lainnya.

Dalam kasus yang sama, pihak OP mendapatkan ancaman dan tekanan langsung dari Menlu Israel, Lieberman. Saat itu Lieberman mengancam jika OP tidak meminta penundaan pengambilan suara atas laporan Goldstone, akan membeberkan peran Mahmud Abbas, Fatah dan Salam Fayyad dalam perang di Gaza kemarin. Tidak itu saja, tambah Lieberman, para petinggi OP itu yang mendorong orang-orang Israel untuk melanjutkan perang hingga Hamas di Jalur Gaza bisa dibasmi total.

Masih menurut sumber menyebutkan bahwa bahasa yang dipakai Lieberman adalah bahasa marah. Ia mengancam akan membeberkan semua pertemuan dan kontak yang memperlihatkan peran dan keikutsertaan OP dalam perang Gaza terakhir.

Dalam kaitan yang sama, kantor berita Shehab News, menukil dari sumber-sumber di Washington menginformasikan bahwa sebuah pertemuan digelar oleh wakil OP dan Zionis Israel di Washington. Pertemuan ini sendiri digelar untuk membujuk OP agar mau menarik dukungan terhadap laopran Richard Goldstone, ketua tim pencari fakta PBB untuk kasus kejahatan perang di Gaza.

Kepada Shehab sumber-sumber itu menyebutkan bahwa mulanya OP menolak atas permintaan tersebut. Hingga akhirnya datang Kolonel Ely Avraham dan membawa laptop sambil menampilkan video pertemuan antara Mahmud Abbas dengan Menhan Israel, Ehud Barak terkait masalah Tzepi Livni.

Provokasi Zionis pada Abbas dan Abdul Rahim

Sumber ini mengatakan bahwa Mahmud Abbas muncul dalam video sedang mencoba meyakinkan “Barak" perlunya melanjutkan perang di Gaza. Barak nampak ragu-ragu dan gemetar di depan antusiasme Mahmud Abbas dan dukungan Livni untuk melanjutkan perang.

Pada konteks yang sama, kata sumber itu, Avraham menampilkan kepada delegasi Otoritas Palestina sebuah rekaman percakapan telepon antara Direktur Kantor Staf Angkatan Bersenjata Zionis dengan Tayeb Abdul Rahim; di mana yang disebut terakhir mengatakan: "Kondisi-kondisi sudah menguntungkan dan matang untuk masuknya tentara Israel ke kamp pengungsi Jabalia dan Shati’." Dia menegaskan bahwa jatuhnya dua kamp pengungsi tersebut akan mengakhiri pemerintahan "Hamas" di Gaza dan akan mendorongnya menaikkan bendera putih. Dove Weissglas menegaskan kepada Abdul Rahim bahwa hal ini akan menyebabkan jatuhnya ribuan warga sipil. Abdul Rahim menjawab, "Mereka semua memilih "Hamas", merekalah yang memilih nasibnya sendiri, bukan kami!"

Kepada Shehab News, sumber ini mengatakan bahwa delegasi Israel mengancam memperlihatkan materi rekaman tersebut di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan media. Hal inilah yang menyebabkan delegasi Otoritas Palestina menyetujui untuk menarik dukungan pada laporan Goldstone. Delegasi Israel memintanya menulis perjanjian yang mengakui bahwa delegasi Palestina tidak memberikan komentar kepada negara manapun untuk mengadopsi "Laporan Goldstone”.

infopalestina

Uskup Agung Hana Kecam Israel

0 komentar

By Republika Newsroom

AL-QUDS--Insiden di kompleks Masjid Al-Aqsa, Ahad (25/10), yang mencederai puluhan warga Palestina mendapat kecaman keras dari berbagai pihak. Uskup Agung Umat Kristen di Al-Quds, Athaillah Hana, menyatakan bahwa kepemimpinan Kristen di Palestina menyerukan kepada seluruh Gereja Kristen sedunia untuk mengecam Israel yang telah berkali-kali melakukan penyerbuan atas Masjid Al-Aqsha.

"Kami akan terus menyerukan kepada gereja-geraja Kristen sedunia agar mengecam dan mengutuk perbuatan Israel yang telah menodai Masjid Al-Aqsha dan melakukan penganiayaan terhadap saudara-saudara kita di Palestina," ujarnya kepada Islamonline, Selasa (27/10).

Uskup Hana menambahkan bahwa umat Kristen di Al-Quds juga mempunyai kewajiaban yang sama terhadap Al-Aqhsa. Ia juga menegaskan bahwa menyerang tempat suci umat Islam sama artinya menyerang tempat suci umat Kristen begitu pun sebaliknya. "Kami sangat mengecam dan mengutuk perlakuan Israel terhadap Masjid Al-Aqsha dan umat Islam," tegasnya.

Menurut Hana, Israel akan terus berusaha menghancurkan apa pun yang bukan milik Yahudi di tanah Al-Quds, dan mereka tidak membedakan antara tempat suci Islam dan tempat suci Kristen. "Jadi, jika disimpulkan, kita (Kristen dan Islam) punya tujuan yang sama," tambahnya.

Mengenang Empat Tahun Syahid nya Syaikh Ahmad Yasin

0 komentar


Infopalestina: Senin 22 Maret 2004, empat tahun yang lalu, selepas keluar dari masjid usai menunaikan shalat subuh, mobil yang ditumpangi Syaikh Yasin dibombardir tiga rudal yang ditembakan pesawat heli tempur Apache Israel buatan Amerika. Syaikh Yasin gugur syahid bersama delapan orang lainnya. Itulah akhir kehidupan yang memang ia inginkan dan telah menjadi kehendak Allah. Syaikh Yasin gugur syahid setelah menyempurnakan bangunan perlawanan dan merasa tenang karena bangunan tersebut sangat indah, kuat, dan kokoh.

Syaikh Yasin adalah simbul perlawanan dan sekaligus guru para mujahid. Meskipun seluruh sekujur lumpuh dan seluruh hidupnya dibelenggu oleh terali besi namun dia adalah seorang yang penggerak yang membangunkan dunia dan mukmin yang merdeka. Seorang kolomnis asal, Mesir Dr. Kamal al Mishri dalam sebuah artikelnya menyebut Syaikh Yasin sebagai “Al ‘Aqid Alladzi Aqama al ‘Alam” (Orang Lumpuh yang Membangunkan Dunia). Kata Kamal al Mishri, “Ketika Anda melihat (realita fisiknya) kemudian Anda mendengar capaian-capaian yang dihasilkan, Anda akan memahami betul firman Allah swt di dalam hadist qudsi, ‘Maka jika Aku mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku adalah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku adalah tangannnya yang dia gunakan untuk memukul, dan Aku adalah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan.’” (HR. Bukhari).

Dia hanyalah seorang lelaki lumpuh yang membangun ide perlawanan hingga menjadi sosok yang tidak disebut kecuali dengannya. Sampai hari ini, setiap orang baik lawan maupun kawan tetap menaruh hormat kepadanya. Namanya senantiasa disebut di seluruh dunia. Di adalah Amir Mujahidin Palestina dan guru perlawanan yang gugur oleh tangan-tangan biadab Zionis Israel.

Syaikh Ahmad Yasin adalah sosok manusia intimewa dan unik pada zamannya, tokoh besar dan bintang bagi orang-orang sejenisnya, menjadi cahaya bagi rekan-rekannya, sosok menakjubkan bagi mereka yang hidup di masanya, perhiasan bagi tokoh setarafnya, pahlawan di era kekalahan, pemberani di tengah iklim ketakutan, pemimpin di samudera kelemahan, raksasa di tengah kehinaan, kemuliaan di medan kerendahan. Sosok yang menjadi harapan di tengah segala kebuntuan, sosok ketegaran dalam menghadapi kekalahan dan keruntuhan. Dia adalah pribadi yang memiliki hikmah di tengah kerancuan, ketergelinciran akal, kebutaan mata hati dan keimanan di tengah-tengah suasana keterkoyakan dan hilangnya identitas. Dia adalah sosok yang meneguhkan keyakinan pada pertolongan Allah dan janji-Nya terhadap kaum mukmin di tengah kegelapan, kesesatan, kebencian para musuh, dan kecemasan jiwa.

Seperti diungkapkan Prof. Dr. Taufiq Yusuf al Wa’i, dalam karyanya ”Qaadat al-Jihaad al-Filistiini fii al-Ashr al-Hadiits: Kifaah, Tadhiyyah, Butuulaat, Syahaadaat”, semua gambaran di atas terdapat pada sosok lumpuh yang tak mampu berdiri ini; sosok yang kedua tangannya pun lumpuh tidak mampu membawa sesuatu; sosok yang kurus dan lemah; tubuh yang terserang oleh berbagai penyakit; penglihatan yang telah kabur kecuali hanya seberkas sinar dari satu mata; serta penderitaan dan sakit yang tak kunjung reda. Bukankah ini sesuatu yang menakjubkan? Bukankah ia merupakan tanda kebesaran Tuhan dan wujud anugerah-Nya? Sosok tersebut hidup untuk misi dan untuk umatnya. Ia menghabiskan usianya dalam dakwah. Ia adalah jihad yang terus berjalan, teladan yang terus bergerak, panutan yang memancarkan cahaya dan keimanan, serta pemahaman dan pengetahuan di tengah jarangnya orang yang tulus, di tengah sedikitnya keikhlasan, serta di tengah lenyapnya suara kebenaran dan ketegasan. Syaikh Yasin datang sebagai pemimpin bagi para mujahid, tokoh bagi para dai, guru yang bijak dan teladan yang agung bagi para pendidik. Tubuhnya yang kurus, kelumpuhannya, dan penyakit yang kronis membuatnya tidak mampu berjuang dengan senjata. Karena itu, beliau berjuang dengan senjata hikmah, dengan pedang pembinaan dan penataan, dengan meriam keimanan, serta dengan bom kesabaran, keteguhan, dan ketegaran.

Dalam sebuah artikelnya, Dr. Abdul Aziz Rantisi, tokoh yang menggantikan Syaikh Yasin memimpin Hamas sepeninggal beliau yang kemudian menjadi target pembunuhan Israel berikutnya, melukiskan tentang pribadi pendiri dan tokoh spiritual Hamas ini dengan menyebut sebagai sosok yang setara dengan umat atau umat yang terdapat pada satu sosok dirinya. Rantisi menuliskan, Syaikh Ahmad Yasin adalah seorang tokoh pemimpin yang istimewa. Dialah sosok yang ketika mendapat bencana dan cobaan, justru memperbesar tekad dan keteguhannya dalam meneruskan jalan meskipun terjal. Beliau terus menapakkan kaki dengan berkorban, memberi, dan bahkan mewujudkan berbagai target yang pada gilirannya melahirkan gerakan perjuangan Islam.

Sosok Reformis

Syaikh Ahmad Yasin menghabiskan usianya untuk dakwah dan jihad. Proyek reformasi dia mulai sejak permulaan tahun 1950-an. Pada tahun 1960-an atau 1970-an proyek ini mulai mengarah kepada bidang pendidikan dan organisasi. Sesudah itu ia mendirikan gerakan HAMAS guna memainkan perannya dalam berjuang dan menghantam musuh lewat segala kekuatan yang ada. HAMAS ikut serta dalam kegiatan intifadhah dari sejak tahun 1987 M hingga sekarang, yang kini memasuki babak perjuangan politik dalam pemerintahan. Intifadhah Hamas telah mampu mengguncang keamanan zionis lewat aktivitas berani matinya.

Keberadaan dan perkembangan proyek ini, meskipun mendapat tekanan penjajah yang luar biasa, justru menunjukkan keyakinan yang sangat kuat dalam mewujudkan janji Allah membebaskan Palestina, meskipun memakan waktu lama. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi jihad yang paripurna. Dimulai dari pembinaan setiap generasi melalui tarbiyah islamiyah yang bersandar pada pelaksanaan berbagai kewajiban agama, pembelajaran kitabullah secara cermat dan sunnah Nabi, penelaahan sejarah, disertai pengkajian tentang kondisi musuh berikut potensinya, titik-titik kelemahan dan kekuatannya, sehingga seorang muslim memiliki kesadaran yang benar tentang realitas yang ada serta memiliki persepsi yang tepat dalam hal pemikiran dan keyakinan.

Menurut Taufiq Yusuf al Wa’i, proyek reformasi Syaikh Yasin ini sejak tahun 1967 mulai terpecah menjadi dua aliran. Pertama, bersifat resmi dan formal yang mmenyerukan perdamaian dengan zionisme sesuai dengan prinsip kompromi. Hal itu dimaksudkan untuk mengikuti standar yang ditetapkan oleh kekuatan regional dan internasional. Juga, karena dipandang tidak mungkin mengalahkan zionis Israel yang bersekutu dengan kekuatan besar. Kedua, menjadikan akidah dan prinsip-prinsip Islam sebagai landasan yang kokoh untuk berjuang melawan musuh. Arus kekuatan ini tidak membenarkan berdamai dengan kaum parampas. Mereka memandang perlawanan satu-satunya pilihan untuk membebaskan tanah suci Palestina. Aktivitas ini baru bisa dijalankan sesudah membentuk pilar-pilar sosial yang kokoh, menciptakan kondisi yang kondusif, mendapat sokongan dari berbagai kekuatan yang ada, serta memperkokoh bangsa Palestina lewat pelaksanaan program pendidikan jangka panjang bertujuan meyakinkan tentang pilihan perlawanan, serta meraih dukungan sebagian besar bangsa Palestina.

Syaikh Yasin giat melakukan proyek tersebut segera sesudah kekalahan di atas. Ia mulai berceramah di berbagai masjid di Gaza. Ia mengobarkan emosi jamaah lewat mimbar-mimbar masjid. Syaikh Yasin memandang masjid dan halaqah tahfidz (penghafal) al Qur’an sebagai wadah alami untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang diinginkan. Dari situlah dilakukan pembinaan terhadap anak-anak agar mereka tumbuh secara Islami. Sementara, mereka yang menginjak usia dewasa diberi program pembinaan yang meliputi aspek pendidikan, pengajaran, dan hafalan Al-Qur’an. Di samping itu, Syaikh Yasin juga mendirikan lembaga sosial, seperti Majma’ Islami tahun 1970-an dan Majdul Mujahidin tahun 1980-an. Untuk membangun basis perlawanan, Syaikh Yasin mendirikan Gerakan Perlawanan Islam Hamas tahun 1987.

Keunggulan proyek Syaikh Yasin ini terbukti telah menghasilkan kader-kader perlawanan yang handal. Bahkan kepergian bapak perlawanan ini tidak menyusutkan aktivitas jihad dan perlawanan di Palestina. Alih-alih berhenti, sepeninggal Syaikh Yasin justru membuat perlawanan mendapatkan dukungan lebih luas dari lapisan masyarakat Palestina, khususnya kepada Hamas. Dan ini dibutktikan dengan kemenangan gerakan ini pada pemilu legislatif Palestina Januari 2005 lalu. Dan kegagalan konspirasi Israel yang didukung dunia internasional dengan memblokade total Jalur Gaza sejak pertengan Juni 2007 lalu adalah bukti nyata dukungan rakyat kepada perlawanan. (seto)